Renungan Atas Film "Sokola Rimba"
"Orang Rimba sebenarnya tidak membutuhkan kita. Mereka tak membutuhkan apa-apa dari dunia terang. Tapi mereka kini terdesak untuk ikut dalam arus pembangunan ini. Desa sudah semakin dekat untuk menjadikan mereka target pasar, membawa perubahan baru dalam dunia mereka. Bahkan juga membawa fenomena penyakit baru. Orang Rimba menghadapi kenyataan baru. Dan tentu wajar pula bagi sebagian dari mereka tergoda untuk lebih sering keluar dari Rimba."
Itulah serangkaian kalimat yang diucapkan Butet dalam seminarnya. Butet Manurung, seorang perempuan kota yang memilih mengabdikan dirinya untuk hidup bersama dan memperjuangkan pendidikan untuk masyarakat Rimba di tengah belantara hutan nun jauh di sana. Perjuangan Butet tentu tak mudah. Dia berusaha mempelajari bahasa mereka pada mulanya, mengikuti gaya berpakaian dan mengonsumsi makanan yang sama dengan kaum Rimba. Berulang kali penolakan diterimanya, namun ia tak menyerah. Akses dan jaraknya yang sangat jauh pun baginya bukan masalah. Semua dilakoninya dengan penuh cinta.
Butet memulai pendidikannya dengan baca-tulis-hitung untuk anak-anak. Dan ia kagum dengan kecerdasan anak Rimba. Mereka pun memiliki kepekaan untuk melestarikan alam sekitarnya. Ini dibuktikan dengan ucapan Nengkabau, salah seorang murid Butet, "Mengapa orang-orang menebang pohon? Nanti waktu saya sudah pintar akan menahan orang-orang yang menebang pohon itu." Suatu kali, seorang anak yang lain meminjam kamera yang dibawa Butet. Mau memotret hutan yang rusak, katanya.
Setelah Butet bertemu dengan Bungo, seorang anak Rimba yang datang dari hulu Sungai Makekal, ia sadar bahwa dirinya masih ada di hilir dan belum mengakses masyarakat dari Rombong yang lebih jauh. Dirinya tertantang untuk memperluas area pengajarannya hingga ke hulu. Meski awalnya kembali menghadapi penolakan, Butet akhirnya diterima untuk mengajar di sana. Masyarakat Rimba sebenarnya masih memperdebatkan tentang 'belajar'. Kaum bapak menganggap belajar berguna, tapi para ibu khawatir: pensil bisa membawa penyakit, dan anak-anak jadi sulit diajak pulang.
Meski dirinya mengajar dengan sukarela, tapi sesungguhnya ia merasa tak bebas karena dipenuhi tuntutan oleh organisasi yang mendanainya. Apapun harus diturutinya, bahkan ketika sejumlah wartawan yang datang dari Jakarta, dan sejumlah kota besar lainnya, datang untuk meliput aksi Butet mengajar anak-anak Rimba. Dirinya merasa terbebani dengan semua itu, karena itu artinya anak-anak dipaksa untuk tampil sesuai apa yang para wartawan inginkan, mereka harus berpura-pura menjadi orang yang bukan dirinya sendiri. Butet muak dengan semua itu, hingga akhirnya dia memberontak dan berkata, "bahwa semua kerjaku ini seolah ingin menunjukkan pada publik, pada pendonor, kalau kami sangat peduli pada Orang-orang Rimba."
Butet tak butuh pencitraan. Tak butuh juga dengan ketenaran. Dirinya merasa tak berkontribusi banyak dan bahkan belum bisa memberi apa-apa terhadap masyarakat Rimba. Ini disadarinya ketika Bungo menunjukkan surat yang tak bisa dia baca. Surat yang berisi kesepakatan pengambil-alihan tanah untuk perluasan kebun sawit. Masyarakat yang tak bisa membaca itu hanya menurut saja dan memberi cap jempol di atas kertas. Mereka tak tau bahwa ini berarti pengusiran dari tanah kehidupan mereka sendiri.
Dari cerita Bungo pula, Butet mengetahui bahwa Rombong Bungo sudah berulang kali pindah tempat tinggal karena kepentingan pemilik kelapa sawit dan perluasan Taman Nasional milik negara. Tempat tinggal mereka yang berpindah-pindah membuat kesulitan untuk berburu makanan. Dalam tiga hari berburu, mereka baru dapat satu babi atau rusa, atau bahkan tak dapat apa-apa. Mereka sekarang tak nyaman lagi membakar ladang karena membakar ladang nantinya akan melanggar hukum Taman Nasional. Sekarang mereka tak lagi bebas hidup di atas tanah milik mereka sendiri.
Di manakah posisi negara terhadap persoalan Masyarakat Rimba? Berpihak kemana kebijakan-kebijakan mereka sebenarnya? Dalam hal pendidikan pun pemerintah seolah ingin menyeragamkan materi pelajaran apa saja yang akan dienyam oleh masyarakat yang kaya akan perbedaan budaya. Kaum Rimba, misalnya. Pemerintah tak mau tahu tentang kehidupan mereka, apa yang dibutuhkan mereka dalam menjalani kehidupan. Semua kurikulum pendidikan disamakan. Anak-anak Rimba dipaksa untuk masuk sekolah memakai seragam yang mereka tak terbiasa memakainya, menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibu mereka. Ketika adat dan budaya mereka dipertunjukkan, mereka akan diolok-olok oleh anak lainnya dan dianggap kaum primitif. Pada akhirnya akan berdampak ketika mereka pulang ke Rimba tempatnya hidup, semua adat budaya dan bahasa akan dianggap buruk. Mereka menjadi malu dan tak percaya diri dengan bahasa dan adatnya sendiri.
Agaknya pemerintah menganggap sekolah dan pendidikan hanya untuk mencetak para pekerja yang bisa diatur seenaknya. Pendidikan tak lagi membebaskan, ia menjadi semacam alat untuk mengontrol dan menyeragamkan pikiran. Di sinilah ucapan Paulo Freire tentang pendidikan yang membebaskan perlu direnungkan kembali.
Apakah solusi yang diajukan oleh pemerintah? Meng-kota-kan masyarakat Rimba ini agar sesuai dengan arus pembangunan yang ugal-ugalan? Itu sama saja dengan membunuh kekayaan budaya yang dimiliki bangsa ini. Apa gunanya ketika mereka membanggakan Indonesia yang kaya akan suku dan bahasa yang hingga ratusan dan ribuan, kalau sama sekali tak berusaha untuk melestarikannya. Pada akhirnya semua itu hanya akan menjadi angka yang tak ada artinya. Ini permasalahan yang serius. Kalau pemerintah enggan berbenah, semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" hanya akan menjadi omong kosong belaka. Jika pembangunan adalah kata lain dari pengusiran, maka sejarah akan mencatat bahwa kita telah gagal menjadi bangsa.